karena beda antara kau dan aku sering jadi sengketa
karena kehormatan diri sering kita tinggikan di atas kebenaran
karena satu kesalahanmu padaku seolah menghapus
sejuta kebaikan yang lalu
wasiat Sang Nabi itu rasanya berat sekali:
“jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara”
mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak saja
menjadi kepompong dan menyendiri
berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam
bertafakkur bersama iman yang menerangi hati
hingga tiba waktunya menjadi kupu-kupu yang terbang menari
melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia
lalu dengan rindu kita kembali ke dalam dekapan ukhuwah
mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi
dengan persaudaraan suci; sebening prasangka, selembut nurani,
sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji
- Salim A fillah -
Bissmillahirrohmanirrochim
Priaku mungkin tak seindah ikhwanku
mungkin belumlah layak menjadi imam
Hanya saja,
cerita-cerita sederhana itu,
seperti menjadi kenangan-kenangan yang akan selalu membuat saya berkata ke dalam diri.
“bahwa dalam dekapan ukhuwah, kutemukan jalan cinta untuk Yang Maha Cinta.”
Sejatinya, ia bukan hanya sekedar membuatku lapang dalam sempit,
atau merasa sangat antusias meski lelah, lebih dari itu semua,
dalam dekapan ukhuwah mengajarkan kepadaku untuk lebih memahami bahwa persaudaraan yang kokoh berdiri
adalah jawaban dari setiap pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita.
“Akankah kita mampu bertahan ?”
Kudo’akan kita masih Istiqomah,
kita tak mau kalah untuk berkeringat,
kita tak mau resah untuk sebuah pekerjaan yang terasa berat.
Kutitipkan semua kekuatan yang mungkin aku punya dan kau tak punya,
agar ia terbang bersama, kemudian kita mampu saling bertukar semangat
Kukirimkan setumpuk harap yang sederhana,
namun berharap ia mampu saling menguati,
kalimat sederhana ini hanyalah catatan-catatan bagi cerita perjalanan kita
yang tak banyak diketahui orang selain diri kita,
Allah dan orang-orang yang ikhlas bersama-Nya
Kutanamkan ikhlas sebagai pedoman,
kusemai iman sebagai kekuatan,
dan kusuburkan keyakinan sebagai jawaban dari setiap persoalan.
Seperti hamparan kisah Hajar dengan keyakinannya pada Allah,
seperti tumpukan rasa yakin Yunus as dalam do’a-do’a penuh penghambaannya.
Semuanya, ikhlas, iman, dan keyakinan yang kokoh mengakar dalam diri kita
Kupelajari satu yang tak pernah kudapat dari yang lain.
Bahwa kuliah bukan hanya berarti melakukan apa-apa yang kita cintai.
Namun kuliah, juga merupakan terjemahan dari berlelah-lelah bagi apa yang kita tidak sukai,
bahkan sekalipun itu menyangkut dengan kenyamanan hidup kita.
Maka karena kita telah berani untuk bersumpah dan mencari ilmu bersama-Nya,
jadilah hati dan jiwa kita takkan pernah habis di isi kekuatan oleh-Nya untuk bergerak,
takkan pernah habis diisi dengan mata air segar yang selalu memancarkan kebaikan dalam episode-episode hari kita.
Kusadari, bahwa setiap perjuangan bukanlah hal yang mudah.
Ia meleburkan semua kebahagiaan,
menghapus semua sifat pengandaian kita,
menghujam dan menusuk semua sifat kemalasan kita,
hanya saja,
disetiap akhir cerita yang panjang dan menguras tenaga ini,
Allah selalu menggantinya dengan kebahagiaan yang merasuk,
kenyamanan yang membumi,
hingga getar-getar cinta yang agung dan merambat di dalam jiwa-jiwa kita agar selalu tunduk pada-Nya..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar